Langsung ke konten utama

Fakta Lee Sang Yoom di The Manager Ep 384: Dari SNU Hingga Piring Numpuk

Sisi Lain Lee Sang-yoon di 'The Manager' Ep 384: Si Jenius SNU yang Ternyata Bisa 'Malas' Juga!

Siapa yang tidak kenal Lee Sang-yoon? Aktor tampan yang dijuluki "Menantu Idaman Se-Korea" ini selalu identik dengan citra sempurna: cerdas, lulusan Fisika Seoul National University (SNU), dan pembawaannya yang elegan.
Namun, penampilannya di variety show MBC "The Manager" (Omniscient Interfering View) episode 384 ini benar-benar membongkar sisi kemanusiaannya yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Penasaran bagaimana keseharian sang aktor jenius ini di rumah mewahnya? Yuk, simak rangkumannya!

1. Apartemen Mewah dengan Pemandangan Sungai Han

Pertama-tama, mata penonton langsung dimanjakan dengan desain interior rumah Lee Sang-yoon. Apartemennya sangat modern, minimalis, dan memiliki jendela besar yang langsung menghadap ke arah Sungai Han. Ruang tamunya yang luas menunjukkan selera desain yang tinggi, sejalan dengan latar belakang ayahnya yang ternyata adalah seorang arsitek ternama. Gak disebutkan sih nama arsiteknya. Meski begitu LSY tidak cocok dengan selera desain arsitek ayahnya yang baginya terlalu tua untuknya. Sekarang rumahnya pindah ya bila dibandingkan di acara master in the house 

2. Bukti Kecerdasan di Rak Buku: Fisika dan Kalkulus!

Bukan sekadar rumor, rak buku Lee Sang-yoon dipenuhi dengan literatur tingkat berat. Kamera menangkap koleksi buku seperti:
 * *Electromagnetism* (Elektromagnetika)
 * *Vector Calculus* (Kalkulus Vektor)
 * *Linear Algebra* (Aljabar Linear)
Bahkan bagi orang biasa, melihat judul-judulnya saja sudah bikin pusing! Ini membuktikan bahwa kecerdasannya sebagai lulusan SNU bukanlah sekadar image di layar kaca. Alasannya pria yang memiliki tinggi 186 cm ini tak suka membuang buku karena punya kenangan untuknya. Tak heran buku semasa kuliah disimpan. 

3. Skor Ujian yang Mencengangkan

Dalam sesi obrolan di studio, terungkap fakta mengejutkan tentang masa sekolahnya. Lee Sang-yoon pernah mendapatkan skor 370-an dari total 400 poin dalam ujian nasionalnya. Tak heran jika ia berhasil menembus salah satu universitas paling prestisius di Korea Selatan. Jurusan fisika lagi. Awalnya ia mau ninggalin perkuliahan karena kesibukannya sebagai aktor namun mendapat petuah dari lee soon jae maka ia lanjutkan kuliahnya hingga 13 tahun. Zaman itu boleh ya. 

4. "The Human Side": Meja Kerja Berantakan & Hobi Main Game

Di sinilah letak keseruannya! Manajer Lee Sang-yoon secara blak-blakan membongkar sifat asli sang aktor.
Si Tukang Menunda: Sang manajer menyebut bahwa Lee Sang-yoon sebenarnya cukup "malas" dalam urusan rumah tangga dan sering membiarkan tugas menumpuk sebelum akhirnya diselesaikan sekaligus.
Meja Kerja yang 'Realistis': Kontras dengan rumahnya yang rapi, meja kerja pribadinya penuh dengan tumpukan dokumen, catatan, dan barang-barang yang berserakan—sangat relatable bagi kita semua!
Gamer Tersembunyi:  Siapa sangka seorang fisikawan suka menghabiskan waktu pagi harinya dengan menonton pertandingan basket sambil asyik bermain game zuma di ponsel?

5. Mobil "Legend" Berusia 11 Tahun

Di saat banyak aktor papan atas hobi mengoleksi mobil mewah keluaran terbaru, Lee Sang-yoon justru tetap setia dengan mobilnya yang dibeli tahun 2013. Baginya, selama mobil tersebut masih berfungsi dengan baik dan nyaman, tidak ada alasan untuk menggantinya. Prinsip yang sangat rendah hati untuk bintang sebesar dia!

6. Si "Raja Hemat" (Frugal King)

Ada beberapa momen yang membuat panelis di studio tertawa sekaligus kagum dengan gaya hidup ekonomisnya:
Pengumpul Poin Setia: Saat berbelanja, Lee Sang-yoon tidak ragu menggunakan poin belanjaan yang sudah ia kumpulkan. Ia bahkan memiliki sekitar 2.310 poin yang ia gunakan dengan sangat teliti.
Barang Kedaluwarsa?: Penonton dikejutkan saat kamera menyorot isi kulkasnya. Ditemukan air mineral yang sudah lewat masa kedaluwarsa 2 bulan dan*gochujang (pasta cabai) yang sudah lewat 1 tahun!
Sertifikat Autentikasi: Ia juga mengaku sempat kesulitan mempercayai sistem sertifikat autentikasi digital, itulah kenapa baru punya mobile banking di smartphone baru- baru ini. Sebelumnya hanya punya buku tabungan menunjukkan sisi konservatifnya terhadap teknologi tertentu. Kalau install aplikasi bener- bener dibaca policy and legacy. 

7. Koleksi Komik "One Piece" & Buku Catatan Fisik

Meskipun otaknya dipenuhi rumus fisika, Lee Sang-yoon memiliki sisi wibu Sepertiga dari rak bukunya ternyata diisi oleh berbagai koleksi komik, termasuk seri populer One Piece.
Selain itu, ia lebih suka menggunakan buku fisik dan menulis catatan dengan tangan daripada menggunakan tablet atau gadget. Menurutnya, menulis secara fisik membantunya lebih fokus dan nyaman saat menghafal naskah atau belajar.

8. Persiapan Teater "Turing Machine"

Di episode ini, kita juga melihat dedikasinya sebagai aktor saat mempersiapkan pementasan teater terbarunya yang berjudul "Turing Machine". Ia berperan sebagai Alan Turing, tokoh jenius matematika. Peran ini terasa sangat cocok dengan latar belakang pendidikannya, namun ia tetap merasa cemas akan dominasi AI di masa depan, sebuah pemikiran mendalam yang ia bagikan saat berada di dalam mobil. Demi perannya sampai baca naskah asli berbahasa prancis karena ada bagian yang ga sinkron makanya ia membaca naskah asli bahasa prancis dengan aplikasi terjemahan.

9. Realita Sink Cuci Piring: "Tunggu Menumpuk Dulu"

Salah satu momen paling relatable (dan mungkin sedikit mengejutkan bagi sebagian orang) adalah saat Lee Sang-yoon memperlihatkan wastafel cuci piringnya. Sang aktor mengaku bahwa ia lebih suka mencuci piring setelah menumpuknya selama beberapa hari .
Melihat pemandangan piring kotor dan sisa makanan yang masih ada di sana, para panelis studio pun tak kuasa menahan tawa. Ternyata, kebiasaan menunda pekerjaan (prokrastinasi) juga menjangkiti seorang lulusan SNU! Kalau ini aku gak kaget ya sedari dulu pria malas diakuinya saat acara happy together 

10. Kekhawatiran Terhadap Dominasi AI

Saat berada di perjalanan menuju tempat latihan, Lee Sang-yoon sempat berbagi pemikiran mendalamnya. Sebagai orang yang mencintai sains, ia mengaku memiliki kekhawatiran bahwa manusia bisa saja didominasi oleh AI sebelum kita menyadarinya. Pemikiran filosofis ini menunjukkan bahwa di balik sifat santainya, ia tetap memiliki pandangan yang kritis dan visioner terhadap masa depan teknologi.






Komentar