Kim Deok Soo, samulnori Korsel- All the Butler/ Master in the house eps 112- 113


Bagi penikmat drama kolosal pasti tak asing dengan instrumen melodi lagu ini, samulnori. Tak hanya melody yang unik melainkan kostum yang khas. Mungkin samulnori bisa dibilang seperti musik daerah Korsel. Kim Duk Soo ini bisa dibilang keturunan terakhir Namsadang. 

Bagi dia budaya tak hanya diikuti dan diwariskan namun juga ngikuti trend dan kolaborasi. Tak heran saat pembukaan kenapa ada disk jockey. Yang penting akarnya atau esensinya.
Beliau debut di usia 7 tahun di tahun 1957, sejak kecil memang sering tampil. Tak hanya di Korea tapi juga di luar negeri. Banyak sekali kolaborasi penyanyi luar negeri. Wah bisa dibilang jam terbang di dunia samulnori tinggi. Pelopor salmunori. Bahkan umur beliau lebih tua dari ayahku. 
Pada dasarnya samulnori adalah suara dari alam. Janggu melambangkan hujan, buk awan, kkwaenggari melambangkan suara petir dan jjing angin. 

Beliau mengajarkan instrumen dan tarian sangmo. Meski sudah berumur beliau ini tak kolot memandang sebuah seni. Benar- benar seorang seniman yang berjiwa kebebasan. Oh iya selama mempelajari budaya sangmo yaitu gerakan berputar dan pakaian ala sangmo. Ternyata ada tamu khusus yaitu Sam Okyere dari Ghana. Pria yang memang sudah cinta akan budaya Korea. Ada juga Daniel Lindemann pria Jerman yang jatuh hati budaya Korea bahkan kuliah jurusannya studi Korea. Kim Duk Soo merasa senang dengan kehadiran kedua orang asing tsb. Tak hanya belajar musik dan tarian Korea tapi juga main game. 
Sepertinya setelah latihan instens langsung pertunjukan besar dengan berbarengan samulnori dan hip-hop. Mungkin karena ada korona tidak ada sesi menginap dan makan- makan. 

Oh iya ada penampilan Ong Seng Wu jebolan wanna one. Ia juga membawa minuman coklat hangat teringat setahun lalu Seung Gi pernah memberikan hotpack dan pijatan bahu. Di sini dia cukup aktif meski pendiam bukan yang suka tampil. 

Posting Komentar

Imakyu. Designed by Oddthemes